jump to navigation

BAHASA DAN KEKERASAN (LANGUAGE AND VIOLANCE November 13, 2011

Posted by Maslathif Dwi Purnomo in Uncategorized.
trackback

BAHASA DAN KEKERASAN
(Language and Violance)
Oleh: Maslathif Dwi Purnomo*

Bahasa tidak dapat dipungkiri lagi telah membentuk budaya. secara terus menerus, bahasa merupakan piranti sosial yang mampu menjadikan masyarakat memiliki identitas diri. melalui komunikasi yang dilakukan oleh anggota masyarakat bahasa berperan selain sebagai alat komunikasi juga menunjukkan identitas dan karakter seseorang, tinggi rendahnya kualitas komunikasi lisan maupun tulisan seseorang dapat dilihat dari bahasa yang digunakan. Semakin baik bahasa yang yang digunakan dalam komunikasi oleh pembicara maupun penulis, maka semakin mudah pula pendengar dan pembaca mendapatkan maksud dari pesan tersebut. begitu juga sebaliknya, apabila pembicara atau penulis menggunakan bahasa yang asal-asalan bahkan tidak sesuai dengan struktur kalimat yang seharusnya, maka interpretasi dari makna ungkapan tersebut akan lain dari apa yang diinginkan dan tidak jarang akan menimbulkan konflik serta kekerasan.
Dalam berkomunikasi verbal maupun tekstual, masyarakat cenderung mengunakan bahasa yang serampangan dan asal-asalan, hal ini diakibatkan karena komunikan menginginkan kemudahan dalam memilih kalimat yang digunakan, akan tetapi kalimat tersebut justru tanpa disadari menimbulkan arti yang berbeda bagi pendengar dan pembaca. kesalahan dalam penggunakan kata dalam bahasa lisan maupun tulisan akan berakibat fatal bagi makna yang terkandung dan ingin disampaikan dalam ungkapan atau tulisan tertentu, apalagi penghilangan beberapa kata dalam suatu ungkapan dan kalimat tertentu secara langsung akan menimbulkan interpretasi yang berbeda dari pembaca dan pendengar.
Masyarakat terus berkembang, begitu juga bahasa yang digunakan dalam komunikasi juga mengalami perkembangan sedemikian rupa, sehingga tidak jarang suatu bahasa yang dulu dipakai dalam komunikasi sehari-hari oleh masyarakat kini tak lagi dipakai dan tentunya menjadi tabu. hal ini diakibatkan karena beberapa faktor antara lain: pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, bergesernya pola hidup tradisional menjadi modern dan bahkan hipermodern, serta berubahnya karakter masyarakat dari produsen menjadi lebih bersifat konsumeris yang melanda hampir seluruh lapisan masyarakat. tentunya hal-hal tersebut diatas sangat mempengaruhi perubahan bahasa yang dipakai oleh masyarakat. perubahan bahasa yang dipakai oleh masyarakat tak pelak memaksa institusi resmi bahasa (baca: Pusat Bahasa) harus pandai membuat kosakata baru bagi kesesuaian bahasa yang dipakai oleh masyarakat.
Penggunaan bahasa yang tidak tepat sering menimbulkan konflik, sebab setiap kata yang menjadi ungkapan mengandung makna dan makna itu terbentuk berdasarkan persepsi dan interpretasi orang yang terlibat dalam proses komunikasi. Ketidaktepatan pilihan kata yang digunakan akan menghasilkan persepi yang tidak sesuai dengan harapan para komunikan. Kesalahan persepsi akan menjadi hambatan yang besar dalam proses komunikasi. Bila hambatan yang ada tidak dikelola secara baik maka akan menimbulkan konflik, permusuhan, dan bahkan perang. Bila ini yang terjadi maka proses komunikasi yang dijalankan berarti gagal.
Hakikat komunikasi adalah understanding atau terciptanya kesepahaman antara orang-orang yang terlibat dalam komunikasi. Sebagian orang kadang-kadang menganggap remeh bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi sebab mereka menganggap bahwa bahasa itu mudah. Penggunaan kata “bangsat” dan “setan “oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang sering kita dengar telah memicu timbulnya konflik antara elit politik di Indonesia. Apa pun alasannya, penggunaan kata kasar oleh anggota DPR yang terhormat tidak bisa diterima. Anggota DPR seharusnya menggunakan bahasa yang santun sebab keberadaan mereka merupakan representasi dari rakyat Indonesia. Mereka harus memberikan contoh yang baik kepada publik tentang bagaimana berkomunikasi yang baik. Mereka berbicara bukan mewakili suara mereka sendiri tetapi mereka mewakili suara rakyat sebab mereka dipilih secara langsung oleh rakyat. Wajar saja bila masyarakat memprotes penggunaan kata “bangsat” dan “setan” sebab kedua makna kata itu sangat bertentangan dengan identitas terhormat yang melekat pada anggota dewan.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “bangsat” berarti kepinding, kutu busuk, atau orang yang bertabiat jahat (terutama orang yang suka mencuri dan mencopet). Sedangkan kata “setan” bermakna roh jahat (yang selalu menggoda manusia supaya berlaku jahat), kata untuk menyatakan kemarahan, sumpah-serapah, dan orang yang sangat buruk perangainya. Betapa sangat buruknya kesan makna yang terdapat dalam kata bangsat dan setan. Kedua kata itu bersinonim negatif dan sangat tidak pantas diucapkan dalam forum dewan. Tetapi, mengapa kata-kata itu bisa keluar dari mulut anggota DPR yang terhormat? Apakah anggota DPR yang terhormat tidak menyadari bahasa yang digunakannya ketika mereka berkomunikasi di hadapan publik?. Realitas diatas hanyalah sekelumit fakta ketidaktepatan penggunaan bahasa, masih banyak fakta-fakta lain dari kesalahan berbahasa oleh masyarakat yang menimbulkan konflik dan kekerasan, baik kekerasan simbolik maupun kekerasan fisik.

Kurangnya Kesadaran berbahasa
Bahasa adalah nafas dalam komunikasi, karena tidak ada komunikasi dalam situasi apapun yang lepas dari bahasa sebagai alatnya. Oleh karenya, bahasa merupakan bagian penting dari kehidupan. Orang tidak bisa hidup tanpa bahasa sebab dalam setiap gerak kehidupan manusia berkaitan dengan bahasa. Karena begitu dekatnya hubungan bahasa dan manusia, sebagian dari kita cenderung kurang menyadari bahasa yang digunakan. Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran bahasa adalah mempelajari bahasa. Sebagian orang menganggap remeh bahasa, dengan mengatakan bahwa bahasa adalah persoalan mudah sehingga tidak perlu dipelajari. Anggapan seperti ini tentu saja salah sebab bahasa dalam konteks apapun sangat perlu dipelajari secara serius. Bahasa memang bisa diwariskan dari generasi terdahulu. Tetapi ini tentu saja tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak mempelajari bahasa. Sejak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar kita sebenarnya telah diajarkan kemahiran berbahasa Indonesia. Pelajaran bahasa itu sangat penting untuk meningkatkan kecerdasan sebab salah satu kunci untuk menguasai ilmu pengetahuan adalah mahir menggunakan bahasa. Bahasa perlu terus dipelajari baik secara formal maupun informal sebab bahasa itu bersifat dinamis atau berkembang.
Dalam menggunakan bahasa kita harus mengetahui ragam bahasa, misalnya ragam bahasa formal dan informal. Ragam bahasa formal digunakan dalam kondisi resmi baik secara tulisan maupun lisan. Bahasa formal mempunyai standar tersendiri sehingga orang yang menggunakan bahasa formal mesti memahami ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa formal baik dari segi kaedah bahasanya maupun pilihan kata yang digunakan. Penggunaan kata “bangsat”, “setan”, dan penyebutan jenis “hewan” dalam forum resmi adalah bertentangan dengan kaidah bahasa formal. Kata-kata tersebut tidak pantas digunakan dalam forum resmi oleh orang-orang yang terhormat sebab mengandung makna negatif dan kasar. Bahkan dalam kondisi informal pun kata-kata tersebut kurang dapat diterima sebab terlalu kasar, kecuali bagi komunitas-komunitas tertentu yang berkaitan dengan kegiatan kekerasan.
Bahasa dan Identitas bahasa sangat berkaitan erat dengan penggunanya. Bahkan bahasa dapat merepresentasikan identitas penggunanya. Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang dapat memberikan gambaran karakter, kepribadian, sikap, dan pandangan hidup. Jika seseorang menggunakan bahasa yang kasar maka ia cenderung mempunyai karakter yang kasar pula. Sebaliknya, jika seseorang menggunakan bahasa sopan, maka ia cenderung mempunyai karakter yang sopan pula.
Bila kita amati penggunaan bahasa kasar oleh anggota dewan, maka kita dapat memberikan makna betapa buruknya kondisi lembaga wakil rakyat itu. Mereka adalah wakil rakyat yang telah dipilih secara langsung oleh rakyat Indonesia. Apakah kita salah pilih? Kita kecewa dengan sikap yang mereka tunjukkan. Citra bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ramah, sopan dan berbudi bahasa yang baik hilang seketika oleh ulah sebagian anggota dewan. Mereka telah menampilkan kemahiran berbahasa yang sangat buruk seperti orang yang tidak mempunyai etika dan tidak pernah mempelajari strategi berbahasa yang baik. Padahal mereka termasuk kelompok elit politik dan kaum terpelajar. Mereka tampaknya mempelajari bahasa hanya sebagai pengetahuan, bukan untuk diimplementasikan dalam kehidupan mereka. Dengan demikian perlunya kesadaran berbahasa yang baik dan mampu merepresentasikan citra diri dan karakter kita sebagai bangsa yang sopan dan beradab.

Bahasa dan Kekerasan Simbolik
Kasus penggunaan bahasa kasar oleh anggota dewan termasuk dalam kekerasan simbolik yang dapat merusak kepribadian bangsa Indonesia. Kekerasan simbolik adalah kekerasan yang dilakukan dengan menggunakan kata-kata kasar kepada seseorang. Kekerasan simbolik sama dampaknya dengan kekerasan fisik. Kekerasan simbolik dapat merusak jiwa dan kepribadian seseorang. Lebih parahnya lagi, korban kekerasan simbolik cenderung mewarisi pengalaman kekerasan simboliknya yang alaminya. Akibatnya, orang yang sudah terbiasa dengan kekerasan simbolik akan cenderung mempunyai karakter kasar, emosional, anarkis, dan brutal. Kasus kekerasan simbolik yang ditampilkan oleh anggota dewan memberikan dampak destruktif bagi bangsa Indonesia. Kasus itu menjadi model yang salah dalam berbahasa. Generasi muda sangat mungkin mencontoh model yang salah itu. Bisa saja seorang siswa dengan mudah menyebut gurunya dengan kata bangsat akibat menonton bahasa yang digunakan anggota dewan. Bila ini terjadi, maka semakin buruklah kepribadian bangsa Indonesia akibat ulah anggota dewan yang tidak mempunyai kesadaran dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Dalam realitas dimasyarakat dapat ditemukan betapa banyak kata atau istilah yang menggambarkan kekerasan, seperti tabok, pukul, jitak, tinju, jotos, bogem, tonjok, tunjek, sodok, tempeleng, gebuk, tampar, sikat, timpuk, dan hantam. Mengapa demikian banyak kata yang berhubungan dengan tindak kekerasan tersebut? Mengikuti teori Boas tentang hubungan bahasa dan budaya, bukankah itu semua menunjukkan dengan gamblang gambaran budaya masyarakat kita yang suka kekerasan? Dengan demikian jelas bahwa semula berbahasa adalah dorongan natural, namun sekaligus bahasa adalah fenomena kultural sehingga kemampuan berbahasa tidak bisa diwariskan secara genetik. Orangtua yang baik kemampuan berbahasanya tidak berarti anaknya juga akan baik. Demikian pula orangtua yang kebetulan bisu, tidak berarti anaknya menjadi bisu pula.
Berbahasa selalu bersifat publik, artinya bahasa selalu tumbuh bersama di tengah masyarakat. Wittgenstein dalam teori Language Game-nya, menyatakan manusia memperlakukan bahasa bagaikan sebuah permainan di mana ada pemain, penonton dan wasit. Sebuah permainan selalu memiliki aturan yang disepakati. Demikian juga berbahasa, tak sesiapapun bisa dengan seenaknya dan secara anarkis memberi makna dan memahami kata apalagi memaksakan makna sesuai yang dikehendaki tanpa melalui proses konvensi yang merupakan ciri fundamental bahasa.Tanpa adanya aturan sebuah permainan dan komunikasi, bahasa akan menciptakan kekacauan yang urutannya bangunan ilmu pengetahuan dan tertib sosial juga akan ikut kacau. Berbahasa yang benar memang bukan sekadar menata kata menjadi kalimat dan kalimat menjadi paragraf sesuai aturan gramatika, melainkan pula harus menyiratkan makna dengan penuh kejujuran sehingga tujuan komunikasi dengan bahasa sebagai alat penyampainya dapa terealisasi dengan benar dan sesuai.
Dalam proses komunikasi, ada tiga jenis komunikasi: agressif, passif, dan assertif. komunikasi agressif muncul dari pola pikir menang-kalah, win-lose; memandang diri sendiri pasti benar dan orang lain harus mengikuti kemauan kita. Komunikasi pasif muncul dari ketidakberdayaan diri sendiri dihadapan orang lain; membiarkan orang lain mengambil peran lebih aktif dari pada kita. Sedangkan komunikasi assertif berusaha mencapai kemenangan bersama-sama; I win – you win. Gaya agressif dan passif sama sama berada pada titik extrim yang mesti kita hindari. Sebab, komunikasi agressif menempatkan diri sendiri selaku komunikan sebagai pelaku kekerasan, sedangkan komunikasi passif memberi peluang orang lain untuk berperilaku kekerasan pada kita.
Realitas yang terjadi, ternyata tiap hari kita lebih banyak dijejali ungkapan-ungkapan agresif dengan gaya komunikasi win-lose, dan bukan win-win. Kita sering menjumpai berbagai kalimat yang sesungguhnya ambigu secara semantik dan salah penempatan secara pragmatik serta lebih bersifat mendiskreditkan seseorang atau komunitas tertentu ditempat-tempat umum serta kantor-kantor baik kantor pemerintah maupun swasta, bahkan ironisnya, kalimat-kalimat tersebut justru sering juga kita jumpai di institusi pendidikan dan bahkan di lembaga yang bergerak khusus dibidang bahasa. Kalimat-kalimat tersebut antara lain sebagai berikut:
“PEMULUNG MASUK DIGEBUK!” (sering dijumpai di kawasan perumahan elit)
“NGEBUT BENJOL” (sering dijumpai di Perkampungan padat penduduk)
“DILARANG KENCING DISINI, KECUALI ANJING!”(sering dijumpai di depan
perusahaan)
“MASUK TANPA SALAM, KELUAR TANPA KEPALA” (sering dijumpai didepan pintu
kamar kos Mahasiswa)
“DILARANG MEROKOK” (sering dijumpai di kantor-kantor dan institusi pendidikan)
“TIDAK MENERIMA SUMBANGAN DALAM BENTUK APAPUN” (sering dijumpai di
kantor-kantor, baik milik pemerintah maupun swasta)
“ADA UANG ADA BARANG” (sering dijumpai di kantin-kantin kampus/ Universitas)
“TAMU HARUS LAPOR!” (sering dijumpai di instansi dan pemukiman)
“YANG MEMBAWA HP HARUS DIMATIKAN” (sering dijumpai di Musholla dan Masjid)
Dan lain-lain masih banyak kalimat-kalimat yang sengaja ditulis oleh masyarakat dalam kondisi tertentu yang bersifat ambigu dan kesanya merendahkan salah satu pihak dari proses komunikasi ini.
Hal-hal diatas tentunya menimbulkan tanda tanya yang besar buat kita, apakah masih layak bangsa ini disebut sebagai bangsa yang beradab, bangsa yang mengedepankan kesopanan, keluwesan, serta selalu santun dalam menggunakan kata dan kalimat? Masih ingatkah kita bahwa para pendiri negara ini adalah orang-orang intelektual yang memiliki kesantunan berbahasa sehingga dalam setiap diplomasi yang dilakukan dalam rangka memperoleh pengukuhan dan pengakuan internasional terhadap negara ini selalu berhasil karena menggunakan bahasa yang santun dan mencerminkan citra diri yang sesungguhnya dari bangsa indonesia. Namun hal tersebut ternyata mengalami distorsi sehingga saat ini kita sudah jarang menemukan kesantunan berbahasa oleh para elit politik. Bahkan lebih ironis lagi ketidaksantunan berbahasa yang dilakukan oleh para elit politik di negeri ini ternyata sudah menjadi virus yang mewabah keseluruh lapisan masyarakat, sehingga fenomena kekerasan berbahasa seperti tersebut diatas sudah menjadi hal biasa digunakan oleh masyarakat negeri ini.

Penutup
Bahasa komunikasi memiliki dua fungsi; yang pertama sebagai alat pencapaian tujuan dalam komunikasi dan yang kedua sebagai wujud citra diri dan karakter pengguna bahasa. Sebagai alat pencapai tujuan dalam komunikasi selayaknya bahasa digunakan sesuai dengan tata bahasa yang benar dan terarah, karena tanpa menggunakan tata bahasa yang benar dan terarah maksud dan tujuan dari komunikasi tidak akan pernah tercapai. Selanjutnya pemilihan kata (diksi) yang tepat dalam komunikasi mutlak harus dilakukan, karena kesalahan dalam pemilihan kata akan berakibat fatal dan bahkan lebih jauh akan mempengaruhi pola pikir masyarakat, oleh karena itu kata atau kalimat yang dapat menimbulkan konflik dan kekerasan dalam masyarakat harus semaksimal mungkin dihindari. Penghindaran terhadap terhadap pemilihan kata yang dapat memicu konflik dan kekerasan bukan saja harus dilakukan oleh para elit politik dan pejabat negara di negara ini, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat bangsa ini harus menyadari betapa pentingnya memilih kata yang sopan, lugas, dan tidak merendahkan orang lain maupun golongan tertentu dalam setiap peristiwa komunikasi yang diciptakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai wujud dari citra diri dan karakter pengguna bahasa, setiap komunikasi yang dilakukan oleh warga masyarakat harus berpedoman pada pola assertif bahasa yaitu model win-win. Artinya setiap komunikasi yang dilakukan harus jauh dari tujuan merendahkan, mendiskreditkan serta mencaci orang lain, karena sesungguhnya dalam bahasa tidaklah ada pembeda antara seseorang dengan orang lain maupun golongan tertentu. Sehingga semakin baik bahasa yang digunakan oleh seseorang atau kelompok dalam menyampaikan ide dan fikiran serta untuk tujuan tertentu, maka akan semakin nyata pula bahwa citra diri dan karakter pengguna bahasa adalah termasuk dalam kategori baik dan berwibawa. Citra diri dan karakter tersebut lebih lanjut akan menjadi citra diri dan karakter masyarakat dan bangsa indonesia yang beradab dan sopan dalam setiap sendi kehidupan. Semoga…!!!

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: