jump to navigation

AYO INDONESIA BISA…!!! November 13, 2011

Posted by Maslathif Dwi Purnomo in Uncategorized.
trackback

AYO INDONESIA BISA…!!!
Refleksi Indonesia menyongsong masa depan
Oleh: Maslathif Dwi Purnomo, M.Hum

Pendahuluan
Ayo Indonesia bisa..!!! Sebuah slogan yang sangat sering kita dengar akhir-akhir ini, terutama melalui media Televisi Nasional. Tayangan heroik ini begitu seringnya muncul di media Televisi dengan dibintangi oleh artis dan aktor serta olahragawan terkenal dinegeri ini hingga menjadi sangat familiar dimata dan telinga masyarakat. Bahkan tayangan ini tidak hanya sendirian, namun sudah diikuti oleh sponsor-sponsor tertentu yang ingin memanfaatkan dan berperan diri dari situasi atas tayangan ini ditampilkan. Tak pelak tayangan heroik ini menjadi media penyampai kepentingan bisnis oleh produk-produk tertentu yang ikut andil dibelakangnya. Sehingga fungsi dari tanyangan yang semula adalah untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan patriotisme melalui perhelatan Sea Games yang dilaksanakan di Palembang dan Jakarta menjadi bergeser kepada kepentingan memasarkan produk dari beberapa sponsor yang mendampinginya. Akibatnya, masyarakat mengalami kebingungan dalam mencerna maksud dan tujuan tayangan tersebut. Mana yang harus dipilih, antara membangkitkan rasa nasionalisme ataukah membeli produk iklan yang menyertainya? Dus, tulisan ini hadir bukan untuk mengomentari sisi per sisi dari sponsor yang menempel pada tayangan heroik tersebut. Namun lebih dalam akan mengupas tentang makna yang terkandung dari slogan “Ayo Indonesia bisa”. kenapa slogan itu muncul, apa landasan historis munculnya slogan tersebut, serta apa makna implikasi dari slogan tersebut?
Potret Indonesia
Era Reformasi yang merupakan titik balik kembalinya kedaulatan ke tangan rakyat melalui mekanisme dan tatanan yang praktis reperesentatif dengan diselenggarakannya pemilihan pemimpin negeri ini (baca; Presiden, Wakil Presiden, DPR, DPD, Kepala Daerah, DPRD) secara langsung melalui partisipasi utuh rakyat ternyata belum membuahkan hasil yang maksimal bagi seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa ini, mari kita lihat dari sisi ekonomi, belum terciptanya iklim perekonomian yang kondusif dengan indikasi masih banyaknya pemodal asing yang memiliki perusahaan di negeri ini tanpa henti-hentinya mengeruk kekayaan alam Indonesia, antara lain kasus freeport, sampai hari ini masih menjadi problem karena carut-marutnya manajemen sehingga terjadi konflik vertikal yang berujung pada terjadinya pemblokiran jalan masuk ke perusahaan dan sabotase aset-aset perusahaan oleh para pekerja, dilematika PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang secara fakta terbukti gagal mensejahterakan masyarakat disekitarnya. Ditambah lagi program pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi mikro rakyat melalui jalur usaha mandiri dengan digelontorkannya program-program seperti KUR, Pinjaman lunak dan lain-lain sepertinya hanya kamuflase dan sarat nuansa politik. Persoalan jaminan keamanan para TKI dan TKW diluar negeri yang masih minim sehingga mengakibatkan banyak TKI dan TKW terncam hukuman mati dan pancung dinegeri orang semakin menjadikan kegalauan rakyat dalam memperoleh pekerjaan ditengah susahnya mencari kerja dinegeri sendiri. Belum berhenti sampai disitu, kegagalan pemerintah mengontrol harga Sembako di pasaran sehingga dapat dipermainkan oleh para tengkulak apalagi pada saat hari-hari besar keagamaan. Hal-hal di atas membuktikan ketidakberdayaan peran pemerintah dalam sektor ekonomi dinegeri ini. Ironis bukan?
Dalam ranah sosial – politik, pemerintah kita telah gagal dalam membangun hubungan sosial – politik yang harmonis, ini terbukti dari banyaknya keputusan-keputusan yang diambil pemerintah yang seharusnya lebih memperhatikan kepentingan sosial justru malah terjebak pada kepentingan politik dengan tujuan mempertahankan kekuasaan semata. Reshuffle kabinet yang diharapkan bisa menjadi solusi alternatif bagi jalannya program-program pemerintah yang berpihak kepada rakyat, justru hanya menjadi dagelan politik dengan tetap mempertahankan orang-orang yang jelas-jelas terindikasi kesalahan di kementeriannya masing-masing. Semakin ironis lagi..
Dalam konteks penegakan hukum, sepertinya Indonesia sudah kehilangan payung hukum yang semestinya dijadikan acuan dalam penegakan hukum di negeri ini. Hukum menjadi persoalan mudah bagi para pemilik modal dan kekayaan, pengadilan menjadi tempat tawar-menawar harga dari pasal-perpasal, dan lebih ironis lagi, kasus-kasus yang ada sepertinya menjadi politik bunyi-bunyian yang sengaja dimunculkan untuk mengaburkan fakta dan realitas urgen akan kelemahan penegakan hukum di negeri ini. Tak pelak banyak kasus-kasus yang dipetikemaskan dan hilang dari peredaraan sehingga masyarakat tak lagi tahu akan kelanjutan dari kasus-kasus tersebut. Luar biasa ironisnya…
Dalam ranah pertahanan dan Keamanan (Hankam), kita mulai dari pertahanan wilayah teritorial, Indonesia seperti kehilangan sertifikat batas negara, sehingga dengan mudahnya negeri tatangga (baca: Malaysia) mencaplok beberapa wilayah yang masuk menjadi bagian wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masih subur ingatan dibenak kita bagaimana pulau Sipadan dan Ligitan dapat lepas dari genggaman Indonesia setelah kalah diplomasi di tingkat PBB, Masalah batas teritorial dilaut ambalat yang sampai hari ini masih belum ada penyelesaiannya, ditambah lagi akhir-akhir ini terjadi penggeseran tapal batas antara Indonesia dan Malaysia di propinsi Kalimantan yang dilakukan oleh warga Malaysia secara perlahan-lahan. Namun sepertinya pemerintah kita kurang tegas dalam mempertahankan batas wilayah negara, Padahal diakuinya suatu negara yang berdaulat adalah ketika adanya wilayah teritorial yang jelas dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun atau negara manapun. Satu hal lagi yang ironis….
Masih dalam arena Hankam, keamanan dalam negeri agaknya terus-menerus mengalami ujian dan cobaan, Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami guncangan keamanan yang justru datang dari dalam negeri sendiri, mari sama-sama kita ingat kasus Bom Bali tahun 2002 oleh sekelompok kawanan yang mengatasnamakan Islam sebagai manhaj perjuangan mereka dengan dipelopori oleh Imam Samudra, Amrozi, Mukhlis dkk, mereka berhasil mengguncang keamanan Indonesia yang dikenal sebagai negara yang gemah ripah loh jinaw toto tentrem kerto rahardjo yang jauh dari perselisihan dan sengketa. Pemerintah secara tegas memberikan julukan kepada kelompok ini sebagai kelompok teroris dan harus diberantas habis. Namun bak kata pepatah mati satu tumbuh seribu, sampai hari ini gangguan dan ancaman teroris tersebut masih terus terjadi dimana-mana. Ancaman dari dalam yang lain adalah disintegrasi bangsa. Papua sampai hari ini masih bergejolak, Aceh yang sedang terjadi perang urat syaraf dan bahkan sudah mengarah ke fisik akibat terjadinya kebuntuan penyelenggaraan Pilkada, serta adanya Republik Maluku Selatan (RMS) yang hingga kini juga mengancam keutuhan bangsa ini. Kesemua hal tersebut nyata ada dan selalu mengancam keamanan bangsa ini. Lebih ironis…
Persoalan yang juga urgen adalah pemertahanan budaya, masih segar dalam ingatan kita betapa kita telah kehilangan muka dan seperti kebakaran jenggot manakala kita menyaksikan fenomena pengakuan beberapa hasil budaya bangsa indonesia oleh Malaysia, sebut saja Reog Ponorogo, Batik serta Tari Pendet Bali. Kesemua produk budaya bangsa Indonesia tersebut dengan nyata telah di klaim sebagai produk budaya Negeri jiran tersebut, hal ini mungkin disebabkan. kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap kebudayaan-kebudayaan Indonesia sehingga menjadikan kebudayaan-kebudayaan bangsa ini dengan mudah dapat dicuri oleh bangsa lain dan kemudian diakui menjadi kebudayaan mereka. Memang ironis sekali….

Indonesia dalam asa
Cita-cita luhur bangsa ini adalah tercapainya kemakmuran, keadilan, kedamaian, keselarasan, keseimbangan dalam setiap sendi kehidupan baik politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun pertahanan dan keamanan. Namun ketika kita melihat realitas dalam potret Indonesia di atas, betapa ironisnya bahwa apa yang terjadi di negeri kita sampai saat ini masih jauh dari harapan dan cita-cita luhur yang ingin diwujudkan. Bangsa ini sedang mengalami kepercayaan di segala bidang, krisis kepercayaan tersebut tidak hanya melanda rakyat terhadap pemerintah namun juga meleanda jajaran pemerintahan sendiri sehingga pemerintah kelihatan ragu-ragu dan tidak –PD- apabila akan mengeluarkan kebijakan terhadap suatu persoalan. Lalu bagaimana bangsa ini bisa maju dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain didunia apabila krisis kepercayaan tersebut masih terus melanda seluruh lapisan masyarakat negeri ini dan juga jajaran pemerintahannya?
Bangsa ini memang sudah sangat rindu kemakmuran rakyat secara ekonomi, keadilan hukum yang merata disemua lini, kedamaian kehidupan berbangsa dan bernegara yang bebas ancaman dari dalam maupun luar negeri mulai dari kepastian teritorial sampai kepada pengakuan produk budaya serta bebas menyuarakan aspirasi demi kemajuan, keselarasan dalam penataan ketatanegaraan baik dimensi politik maupun sosial, serta keseimbangan kontrol yang dilakukan oleh seluruh masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dan sebaliknya pemerintah selalu membuat kebijakan atas nama rakyat dan untuk kemajuan rakyat. Asa yang sungguh mulia dan ideal inilah yang dicita-citakan oleh bangsa yang besar dan merdeka 66 tahun silam ini.
Oleh karena itu momentum perhelatan Sea Games yang diselenggarakan di Palembang dan Jakarta seakan menjadi titik tolak kebangkitan bangsa ini. Pemerintah sepertinya sangat berharap banyak dalam momentum ini Indonesia akan meraih emas yang sebanyak-banyaknya melalui jawara-jawara olahraga yang telah dipersiapkan sehingga mampu menjadi juara umum pada perhelatan dua tahun sekali ini. Hal tersebut mugkin wajar dan sangat masuk akal, mengingat sudah sekian lama Indonesia tidak pernah menjadi juara umum pada perhelatan ini. Disamping itu prestasi olahraga Indonesiapun tidak menunjukkan grafik meningkat mulai dari cabang olahraga Sepakbola sampai kepada olahraga bulutangkis yang dulu sangat dibanggakan.
Slogan “Ayo Indonesia bisa” dalam hal ini bukan saja menjadi pemacu semangat para jawara Indonesia untuk menang dalam pertandingan Sea Games saja, akan tetapi juga sebagai jamu bagi bangsa ini untuk sedikit demi sedikit bangkit dan maju serta berbuat lebih baik lagi. Slogan tersebut seakan mengisaratkan bahwa sesungguhnya masih ada setitik asa untuk memperbaiki bangsa ini disemua lini yang sedang dilanda penyakit kronis. Slogan itu memiliki makna implikasi bahwa walaupun Indonsia sampai saat ini masih jauh dari cita-cita yang diharapkan, namun bangsa ini belum mati dan masih memiliki rakyat dan pemerintah yang mencintai tanah air dan tumpah darah mereka. Sehingga untuk menjadi rakyat yang baik, pemerintah yang baik, pejabat yang baik demi perbaikan di segala dimensi belumlah terlambat asal mau berubah mulai sekarang dan sampai akhirnya nanti.

Penutup
Indonesia sebagai bangsa yang merdeka selalu mencita-citakan terciptanya kemakmuran, keadilan, kedamaian, keselarasan, keseimbangan dalam setiap sendi kehidupan baik politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun pertahanan dan keamanan. Namun sayang akibat kecerobohan dan keserakahan para elit dan pejabat pemerintahan dinegeri ini, Indonesia menjadi goyang dan memiliki berbagai penyakit yang sudah kronis. Penyakit-penyakit tersebut dapat dideteksi seperti dalam bidang ekonomi yang belum mencapai standar kemakmuran, bidang sosial politik yang carut-marut, bidang hankam yang sungguh masih jauh dari harapan, bahkan sampai bidang kebudayaan yang teledor dan sangat kurang waspada. Berbagai penyakit tersebut sampai saat ini masih belum bisa disembuhkan. Akibatnya, bangsa ini mengalami krisis kepercayaan multidimensi serta ketidak-PD-an dalam bertindak dan melakukan perubahan.
Slogan “Ayo Indonesia bisa” yang kebetulan digunakan dalam perhelatan akbar yang disebut Sea Games sesungguhnya menjadi titik awal bangkitnya Indonesia dari keterpurukan multi dimensi. Slogan tersebut keluar dimana bangsa ini masih berada dalam kondisi lemah disegala dimensi. Slogan itu seakan menjadi jamu yang siap menjadi obat bagi rakyat dan pemerintah bangsa ini utuk sedikit demi sedikit bangun dari keterpurukan. Slogan heroik ini memilki makna implikasi untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan patriotisme bagi seluruh rakyat dan pemerintah Indonesia untuk memperbaiki bangsa ini mulai sekarang dan sampai akhirnya nanti. Semoga…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: