jump to navigation

Berbahasa itu Indah Maret 11, 2010

Posted by Maslathif Dwi Purnomo in Uncategorized.
trackback

Dalam suatu kesempatan ketika penulis sedang menghadiri acara di kantor Gubernur Sumatera Utara dalam rangka menyambut kunjungan kerja Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) beberapa waktu lalu, dalam kesempatan itu H. Syamsul Arifin,SE (Gubernur Sumatera Utara) menyampaikan pidatonya yang menurut penulis sangat spektakuler, dinamis, dan mampu mencairkan suasana, pak Gubsu dengan piawainya mengajak audien untuk larut dalam saru pokok persoalan ekonomi melalui sajian apik yang dikemas dengan menggunakan bahasa yang lugas, luwes, terarah dan memasyarakat. memulai sambutannya pak Gubsu menyapa audien dengan sebuah pantun ciri khas melayu “biarlah logam tapi logam diatas buah manggis, biarlah hitam tetapi saya hitam yang manis” sontak para audien bertepu tangan mendengar pantun pak Gubsu tersebut. belum berhenti sorak sorai audien, Gubernur yang memang terkenal lugas dan pandai berpantun ini melayangkan jurus pantun mautnya kembali “Tanjung balai memang kota kerang, walaupun kerang tapi manis rasaya, saya ini bukan cuma jual tampang, tapi berbakti utk kemajuan sumatera utara”. mendengar lontaran pantun tersebut, sontak gemuruh sorak sorai audien menggelegar di ruangan yang penuh dengan hawa dingin AC tersebut. selanjutnya, sang pemimpin tertinggi Sumatera Utara itu kemudian meneruskan pidato sambutannya dihadapan Menteri Koperasi dan UKM dan para audien tidak terkecuali penulis yang mengikuti acara tersebut sampai dengan selelsai.

Cuplikan realitas diatas menunjukkan kepada kita bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi verbal-tekstual yang hanya tunduk pada aturan-aturan gramatikal semata, namun bahasa adalah alat komunikasi dan alat untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada orang lain pada situasi dan kondisi yang tidak terikat, artinya penggunaan bahasa sebagai alat mengkomunikasikan sesuatu tidaklah harus hilang karena sekatan tempat dan situasi dimana bahasa itu digunakan, apabila selama in kita hanya mendengar pidato sambutan yang disampaikan oleh seorang pejabat sekelas Kepala Desa, Camat, Bupati, Wali kota, Gubernur, Menteri bahkan Presiden cenderung lebih mengedepankan nilai-nilai kebenaran grammatikal, eksklusif, tertata rapi, penuh rasa santun dan terikat, sehingga pendengar dalam ranah ini dipaksa untuk mengikuti  alur bahasa yang jauh dari mengapresiasikan sesuatu.

Strukturalisme bahasa dalam pidato-pidato resmi yang kerap kali kita dengar disampaikan oleh pejabat-pejabat negara seakan sudah menjadi hal wajib dilakukan dalam suasana resmi tanpa disadari bahwa sebenarnya kita telah berada dalam ranah pembelengguan berbahasa. Bahasa resmi bukanlah harus diidentifikasikan dengan menyekat bahasa kedalam ranah sempit dengan berdalih pada ketentuan kondisi yang memang sengaja diciptakan, namun lebih jauh seharusnya berbahasa resmi lebih dikedepankan pada bagaimana bahasa yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu itu mampu mengantarkan pokok permasalahan yang ingin disampaikan kepada audien. bukankah peenggunaan bahasa yang simpel, lugas dan penuh dengan kekerabatan akan lebih mudah diterima oleh audien yang tetntunya secara otomatis audienakan bias menangkap pesan penting yang ingin disampaikan?

Petikan pantun diatas yang disampaikan oleh seorang Gubernur sumatera Utara, ternyata tidaklah menghilangkan esensi keseriusan dan stressing pokok permasalahan yang ingin disampaikan melalui bahasa yang digunakan. pantun sebagai bahasa berfungsi sebagai media unuk menyalurkan ide pokok permaslahan yang ingin disampaikan oleh sang Gubernur kepada audien yang sedang ia hadapi, dalam situasi ini timbullah interaksi mind dan thought, interaksi mind timbul karena audien mengerti dengan ide pokok yang ingin disamapaikan oleh pembicara sehingga audien mampu menelaah secara terbuka pokok permasalahan tersbut. sementara itu interaksi thought lebih mengarah pada keikutsertaan perasaan audien terhadap realitas yang disampaikan oleh pembicara. dalam hal ini telah terjadi  transfer of knowledge dan transfer of sense melalui bahasa yang digunakan oleh pembicara.

Berbahasa memang seharusnya memperhatikan situasi (Genre) dan kondisi sosial (register) , karena bahasa adalah cermin budaya (language is a social culture) yang tentunya mencerminkan situasi dan kondisi sosial dimana bahasa itu  digunakan. penggunaan bahasa tidaklah harus tersekat oleh kepentingan dan keinginan sesaat, karena bahasa bersifat luas dan memiliki fleksibilitas kata yang tidak terhingga, sehingga kalau pengguanaan bahasa dipaksakan harus mengikuti aturan – aturan tertentu disetiap kondisi maka hal ini bisa menimbulkan hirarki konflik antara pembicara dan pendengar. selanjutna, jika hirarki konflek itu muncul maka yang terjadi adalah mis-understanding antara pemvicara dan pendengar, sehingga pesan utama atau ide pokok yang ingin disampaikan dalam pembicaraan tersebut menjadi tidak dimengerti oleh pendengar. bukankah kondisi seperti ini justru akan menimbulkan konflik bahasa? inilah yang selanjutnya perlu direnungkan lebih jauh.

Berbahasa akan lebih indah jika ia ditempatkan pada ranah dimana bahasa itu digunakan dengan melihat situasi dan kondisi pendengarnya, tidak selamanya pidato – pidato pejabat yang disampaikan didepan rakyatnya selalu menggunakan bahasa yang monoton, grammatikal, struktural dan eksklusif sehingga susah dimengerti ide pokonya oleh para pendengarnya, akan tetapi justru bahasa yang memasyarakatlah yang akan lebih mudah dicerna dan mampu membawa pendengar masuk kedalam ranah mind dan thought terhadap pokok masalah yang disampaikan.

Bahasa bukanlah alat untuk mengklasifikasikan masyarakat, kelompok, suku ataupun ras. dalam bahasa tidak dikenal istilah hirarkisme bahasa, bukanlah menjadi suatu keniscayaan apabila seorang pejabat harus berbicara dengan gaya bahasa pejabatnya yang pelan-pelan, teratur, berwibawa dan sok-sok ilmiah. namun juga bukan menjadi kewajiban jika seorang tukang becak harus berbicara kasar, spontan, pasaran dan ndeso, baik pejabat maupun tukang becak sama-sama  memiliki bahasa dan berhak menggunakan bahasa sesuai dengan kondisinya masing-masing, pada saat tertentu seorang tukang becak juga berhak menggunakan bahasa halus, sopan, terarah, luwes, lugas, dan sebaliknya seorang pejabat juga tidak disalahkan apabila menggunaka bahasa yang ndeso, spontan dan “kasar”, karena keduanya adalah insan bahasa yang berhak memiliki dan menggunakan bahasa tersebut sebagai alat komunikasi dan mengkomunikasikan sesuatu. lembaga ataupun institusi apapun tidak berhak melarang penggunaan bahasa yang seperti itu.

Mari kita ingat sewaktu Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sang pahlawan demokrasi menjadi presiden, beliau telah mendekontruksi tata aturan berbahasa bagi pejabat yang sebelumnya terkenal dengan tata aturan yang baku dan protokolisme, menjadi memasyarakat dan selalu berpihak kepada masyarkat. Melalui bahasa Gus Dur yang kelihatannya entheng ternyata mengandung makna yang dalam tanpa harus membingungkan audien yang mendengarkannya. bahasa yang digunakan Gus Dur telah merombak sentralisme dan sakralisme bahasa yang selama ini digunakan oleh para pejabat di negeri tercinta ini. Gus Dur mengetahui betul bahwa akibat dari politisasi bahasa yang digunakan oleh para pejabat Orde Baru itulah masyarakat Indonesia menjadi masyarakat minder, dangkal pemikirannya, dan kurang progresif terhadap realitas yang terjadi. Al-hasil keterpurukan dari semua sisilah yang menghinggapi masyarakat Indonesia saat itu. Gus Dur sangat paham akan kondisi realitas itu, sehingga sewaktu beliau menjadi presiden termasuk agenda utamanya adalah merombak kebekuan sentralisme bahasa. bahasa ceplas-ceplos yang dipraktekkan oleh Gus Dur mengindikasikan bahwa beiau bermaksud menunjukkan kepada masyarakat bahwa kita berhak menerima dan menolak sesuatu secara spontan karena itu adalah hak masyarakat sebagai warga bangsa dalam semua ranah, lebih lanjut lagi Gus Dur ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa Bahasa bukanlah alat pembelenggu pikiran dan keinginan yang ingin disampaikan. subhanallah, betapa mulia hati beliau.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: