jump to navigation

Dekonstruksi Derrida dan kegalauan semiotika Maret 10, 2010

Posted by Maslathif Dwi Purnomo in Uncategorized.
trackback

“Bahasa adalah sebuah ironi,” demikian ujar Yasraf (dalam Sobur, 2004 : vi) saat hendak menuturkan pemikiran Umberto Eco, tentang titik temu antara semiotika signifikasi Saussure dan semiotika komunikasi Peirce. Ada semacam ruang ketiga (third space) kata Yasraf, yang terkandung dalam bahasa, dimana sistem tanda dan proses komunikasi bertemu.

Bila demikian pasalnya, maka bahasa harus dipandang sebagai totalitas yang mengantarai aturan-aturan yang telah disediakan oleh sistem bahasa (semiotika signifikasi) dengan bentuk-bentuk tindakan komunikasi (semiotika komunikasi) yang dilakoni manusia. Melalui tanda dan aturan-aturan itulah, maka tindakan komunikasi dapat tercipta dalam sebuah proses komunikasi.

Akan tetapi, medan bahasa tidak melulu hadir dalam sistem tanda dan tindakan komunikasi. Bahasa adalah medan plural yang masih dapat menciptakan permainan-permainan bahasa, di luar dari sistem tanda-tanda yang konvensional, dan pemakaian tanda-tanda serta pengkodeannya sebagai praktik dalam ruang sosial. Bahasa, yang oleh Saussure dipandang sebagai totalitas sistem dalam sistem sosial, dan bahasa sebagai praktik komunikatif yang mengambil perbendaharaannya dalam sistem bahasa, memiliki peluang untuk dilihat, tidak dari kedua poros tersebut.

Jacques Derrida, adalah seorang tokoh yang hadir untuk membaca kemungkinan lain dari bangunan bahasa dalam sistem sosial. Derrida memandang ruang lain yang dapat diamati dalam membincang bahasa, pada ekses-ekses komunikasi yang dapat saja terjadi dalam proses komunikasi. Ia melirik kembali pemikiran Saussure tentang sifat konvensi tanda dalam sistem sosial, dan mencoba membawanya pada sebuah konsep paling krusial dalam tema filsafatnya, tentang metafisika kehadiran.

Derrida memandang adanya ketidakkonsistenan dalam hukum-hukum bahasa yang kerap dipandang sebagai jembatan yang memertemukan antara realitas internal dan realitas eksternal, antara objek dan interpretasi, antara fakta dan ide. Hanya melalui bahasa, maka benda-benda dapat dikenali, dan alam sekitar bisa diberi makna. Bahasa jadinya selalu dipandang sebagai cermin yang merepresentasikan realitas, secara sejajar dengan gagasan yang muncul dalam benak.

Kata ‘pohon’, merepresentasikan realitas pohon di alam eksternal, kata ‘sepatu’, adalah ujaran yang diberikan kepada sejenis penutup kaki di dunia nyata, dan sebagainya. Tetapi, sejauh apapun bahasa coba memberikan keterangan tentang dunia, bahasa tetaplah tak dapat menjadi cermin realitas.

Derrida melihat, bahwa semiotika signifikasi Saussure sarat dengan kecenderungan logosentrisme. Terlalu banyak hal yang dideterminasi dalam semiology Saussure, sehingga terjadi pengutamaan satu atas yang lain dalam kecenderungan bahasa. Begitu banyak bentuk oposisi dalam semiology Saussure, hingga mengatributkan yang lain sebagai lebih berarti dari yang lain, lebih tinggi dari yang lain, lebih benar dari yang lain.

Lebih luas, bentuk oposisi itu menjangkit hampir keseluruhan pengertian yang terkait dalam semiology-nya. Synchronic/dyachronic, sistem bahasa (langue)/tindak bahasa (parole), aktivitas/pasivitas, tuturan (speech)/tulisan (writing), penanda (signifie)/petanda (signifiant), waktu/ruang, dan sebagainya. Apa yang dilupakan para strukturalis adalah mereka lupa meletakkan “tanda silang” (sous rature) dan tidak mempersoalkan oposisi biner tersebut (Purwanto, http://jendelapemikiran.wordpress.com, 11 Februari 2008).

Derrida justru melihat, bahwa oposisi yang diperlihatkan dalam ragam konsep strukturalisme, menjebak penafsir pada tipologi khusus yang diarahkan oleh seorang kreator dan pencipta teks. Sehingga, bahasa menjadi beku dalam penafsiran, selama kreator tetap menampakkan kerja kerasnya pada teks. Ia juga tak puas dengan klaim para modernis yang sering keliru meletakkan ‘arti’, sebagai penggambaran realitas sebenarnya.

Pandangan tanda sebagai cermin realitas, adalah sebuah anekdot yang mengibuli, tidak dapat diterima, dan alih-alih melakukan penutupan (forclosure) terhadap berbagai kemungkinan tafsir kreatif atas bahasa dan yang disediakan olehnya. Derrida lalu mengusulkan dua model cara penafsiran atas bahasa. Pertama, penafsiran restropektif (restropective), yakni upaya untuk merekonstruksi makna atau kebenaran awal atau orisinal; dan kedua, penafsiran prospektif (prospective), yakni upaya untuk melakukan indeterminasi, di dalam sebuah ‘permainan bebas’ (free play) (Yasraf dalam Sobur, 2004 : xvi).

Bagi Derrida, makna tidaklah bersifat tetap dan senantiasa terbuka bagi penafsiran. Apa yang dipandang sebagai makna yang dapat merepresentasikan realitas sebenarnya, selalu memiliki keterbukaan yang lebar terhadap makna dan ekspresi baru. Derrida menganggap aksiomatis klaim Saussure yang memandang bahasa sebagai sebuah sistem makna, yang mendasari diri dari prinsip pembedaan, dan tidak dari korespondensi dengan makna-makna dari sebuah acuan yang nyata, menjadikan makna tidak lagi dapat diklaim berada dalam ruang tertutup.

Makna selalu terbuka dalam tafsir, dan terus saja bekerja, sekedar dalam tanda-tanda. Akibatnya, “sejak makna lahir, yang ada hanyalah tanda”, dan “kita berpikir hanya dalam tanda-tanda” (Derrida, 1976 : 50 dalam Barker, 2004 : 98). Bahasa, dengan demikian, dipandang sebagai lautan teks yang berkelindan dan memberi pengertian. Ia bahkan menuturkan, bahwa “everything is text, there is nothing beyond text”, untuk menekankan lebarnya ruang teks dan makna yang dapat lahir darinya.

Derrida kemudian mengambil satu peristilahan Saussure yang menekankan sifat arbiter pada tanda, yakni difference (perbedaan). Dari difference, ia mengusulkan sebuah cara baru melihat tanda, dengan memisahkan perbedaan menurut akal sehat yang bisa dikonsepkan, dengan perbedaan yang tidak dikembalikan kepada tatanan yang sama dan menerima identitas melalui suatu konsep.

Cara yang dilakukan Derrida, meski tetap berangkat dari prinsip perbedaan, diistilahkan Derrida sebagai ‘différance’. Konsep ini muncul ketika ia mencoba menemukan bagaimana bahasa dapat mempunyai arti. Dalam difference, perbedaan itu bukan suatu identitas dan juga bukan merupakan perbedaan dari dua identitas yang berbeda. Perbedaan perbedaan yang di-tunda (defer) karena dalam bahasa Prancis, kata kerja yang sama (diffèrer) bisa berarti membedakan (to differ) atau menangguhkan (to defer). (Lechte, 2001 : 171).

Dengan differance itu pula, Derrida meruntuhkan sistem oposisi dalam strukturalisme. Oposisi yang menempatkan terma pertama pada kedudukan superior yang diasumsikan, melalui strukturnya, memiliki makna tersembunyi yang hadir di balik teks. Derrida meruntuhkan oposisi ini dengan menghancurkan “hierarki”-nya, melawan kekerasan dengan kekerasan, pembalikan terma, dan terma pemenang harus diletakkan di bawah tanda silang. Sehingga memberi ruang pada “konsep” baru yang tidak dipahami dengan cara pandang oposisi.

Dalam cara ini, ia tidak saja menciptakan sebuah permainan bahasa yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori tanda Saussurean, namun menciptakan signifiesignifie yang tanpa henti hadir dalam permainan tanda. Malah, karena sifat signifie yang mengutamakan satu kategori dalam makna, signifie berulah sebagai bahasa yang tidak memiliki signifiant sama sekali.

Arus besar dari gagasan Derrida, dirumuskannya dalam sebuah istilah bernama dekonstruksi, yang merupakan upaya untuk terus-menerus menyerang logosentrisme dalam aras filsafat dan klaim pemikiran. Dekonstruksi dilakukan, untuk menunjukkan ketidaklengkapan hukum-hukum pemikiran bekerja. Konsep tersebut berupaya membangkitkan pengaruh dan membuka wilayah baru dalam dunia filsafat sehingga terus bisa menjadi ajang kreatifitas dan penemuan baru. (Lechte, 2001, 170-171)

Dekonstruksi bukanlah sebuah mode, teknik, gaya kritik sastra, atau juga sebuah prosedur dalam menafsir teks. Inti dari dekonstruksi, bahwa kata ini berhubungan dengan bahasa dan segala hal yang terus berupaya untuk ditolaknya. Konsep ini memakai asumsi filsafat atau filologi untuk menghantam logosentrisme (Sutrisno, 2005, 171). Fokus utama Derrida adalah bahasa tulisan atau teks.

Melalui proyek dekonstruksinya, ia menginginkan setiap manusia yang membaca teks, tidak serta-merta terlalu cepat menyimpulkan, atau menyingkap arti dalam setiap teks terbaca. Derrida menunjukkan berbagai kesulitan yang ada dalam teori-teori yang memaksa diri mencari keberadaan arti tunggal, baik dengan mengacu pada maksud penulis, aturan-aturan bahasa, maupun pengalaman pembaca. Derrida memercayai, bahwa sebuah teks senantiasa berkorelasi dan mempunyai konteks, sehingga selalu mengandung kemungkinan arti-arti yang lain.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: