jump to navigation

BAHASA, POLITIK DAN JARGON YANG MENYERTAINYA Maret 10, 2010

Posted by Maslathif Dwi Purnomo in Uncategorized.
trackback

Bagian 1 – JARGON POLITIK

Di mana akronim-akronim lahir?

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang muda dan rupanya orang-orang yang mengunakan bahasa Indonesia suka sekali merubah dan mengadakan eksperimen bahasa ini. Bahasa Indonesia terkenal berisi banyak akronim dan singkatan, yang digunakan sehari-hari. Kebanyakan orang tahu artinya akronim-akronim itu, dan tersebar luas di seluruh Indonesia. Bisa dilihat di dalam koran, plakat besar, dan dilihat dari televisi. Ada banyak akronim resmi dari media massa dan dimengerti oleh masyarat luas, itu hanya karena kebiasaan sehari-hari.

Dengan membuka koran saja, banyak akronim bisa dilihat. Bukan kata politik saja, tetapi juga dari bidang olah raga dan bisnis. Kebanyakan kata ini menurut editor sudah diketahui oleh banyak orang, tetapi kadang-kadang ada juga yang memerlukan keterangan.

Baru-baru ini, terbit di The Manila Times, terdapat artikel tentang adanya akronim-akronim dalam bahasa Indonesia yang berlebihan. Semakin lama, semakin banyak akronim-akronim dan singkatan dikenalkan di dalam bahasa; dan semakin susah untuk orang-orang asing mengerti dan orang Indonesia sendiripun banyak yang tidak mengerti istilah-istilah tersebut. (Suwastoyo August 31, 2004).

Menurut Pak Arjun yang ahli bahasa, pebedaan di antara akronim dan singkatan adalah bahwa akronim bisa dibaca sebagai kata, misalnya ‘polri’. Akronim adalah jenus singkatan, tetapi kebanyakan singkatan adalah dilafalkan sebagai setiap huruf, misalnya ES-BE-YE untuk SBY.

Bahwa ada banyak singkatan dalam Bahasa Indonesia tidak perlu menjadi masalah karena kebanyakan orang sudah tahu artinya. Tetapi setiap bidang mempunyai singkatan sendiri, misalnya militer, mahasiswa, binis dan lain-lain. Mungkin ada masalah untuk seseorang yang di luar bidang ini karena mereka belum tentu memahaminya.

Beberapa contoh akronim-akronim dan singkatan adalah sebagai berikut:

Bidang Politik

SBY = Susilo Bambang Yudoyono

PNS = Pegawai Negeri Sipil

HAM = Hak Asasi Manusia

DPR = Dewan Pewakilan Rakyat

GolKar = Golongan Karya

Pilkadal = Pemilihan Kepala Daerah Langsung

Bidang Pendidikan

DPC = Dewan Pimpihan Cabang

PTN = Perguruan Tinggi Negeri

PTS = Perguruan Tinggi Swasta

OrMah = Organisasi Mahasiswa

UKM = Unit Kegiatan Mahasiswa

Bidang Bisnis dan Eknomik

BNI  = Bank Nasional Indonesia

BPK = Badan Pemeriksa Keuangan

Kadin = Kamar Dagang dan Industri

REI = Real Estate Indonesia

Bidang Olah raga

KONI = Komite Olah raga Nasional Indonesia

Arema = Arek Malang

PSSI = Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia

PBSI = Persatuan Bulu tangkis Seluruh Indonesia

Bidang Militeris dan Polisi

TNI = Tentara Nasional Indonesia

Polri = Polisi Republik Indonesia

Kodam = Komando Daerah Militer

Menurut Manila Times, acara televisi dan dinas pemerintah di Indonesia melakukan kesalahan dalam membuat dan menyebarkan singkatan baru.

Mengapa Orang Indonesia suka sekali membuat akronim-akronim? Dalam pendapat Pak Arjan itu untuk alasan yang sama, karena berkaitan dengan kemudahan, dan lebih cepat untuk berbicara dan ditulis. Kata panjang dalam Bahasa Indonesia merupakan dorongan munculnya akronim. Media massa suka sekali singkatan-singkatan untuk alasan ini, dan kata baru disebarkan dengan bantuan media massa.

Sampai tingkat tertentu, semua bahasa-bahasa di dunia mengunakan singkatan dan akronim, tetapi pasti di Indonesia itu lebih biasa. Menurut artikel dalam Manila Times, masalah tertinggi adalah tidak ada peraturan nasional untuk mematuhi kalau membuat singkatan atau akronim yang baru. Akibatnya, ada orang yang kuatir bahwa bahasa Indonesia mungkin memburuk dalam ‘padan lisan pesan sms hand phone’ sebab banyak akronim ini (Suwastoyo 2004).

Akronim-akronim resmi

Tidak hanya televisi yang membuat kata-kata baru, tetapi juga banyak akronim dibuat oleh pemerintah, terutama pada masa menjelang pemilu. Selama masa kampanye pemilu, ada banyak contoh akronim-akronim politik yang digunakan calon-calon berkali-kali.

Alasan bahwa politikus berbicara dalam semboyan adalah karena lebih mudah dibandingkan dengan menggunakan kalimat lengkap. Singkatan-singkatan lebih pendek dan sederhana, semboyan-semboyan lebih efektif dan ekonomi.

Banyak semboyan dipakai terlalu sering dan menjadi klise. Dalam buku program untuk calon presiden tahun ini, ada kata tertentu yang muncul berkali-kali (Narwanto 2004). Misalnya kata yang selalu diberbicarakan oleh calon-calon adalah KKN (Kolusi, Korrupsi dan Nepotisme). Pasangan calon utama selama kampanye yang lalu, berjanji membuat kabinet ‘bebas KKN’. Mereka juga berjanji membantu HAM (Hak Asasi Manusia). Hal yang terpenting adalah pemilu yang Jurdil (Jujur dan Adil). Kata-kata ini sudah menjadi kata yang semua orang tahu dan populer. Karena itu, rupanya politikus-politikus hampir tidak harus memikir tentang jawabannya sebelum mereka berkata sesuatu, mereka mengunakan singkatan ini. Akibatnya, singkatan-singkatan ini hilang artinya, seperti semua klise, dan menjadi kata kosong yang orang-orang tidak percaya lagi.

Pokok yang terpenting adalah bahwa kata-kata ini, terutama singkatan politik, dibuat pemerintah dan ditujukan kepada masyarakat lewat media massa. Kata-kata ini tidak dibuat oleh masyarakat sendiri, jadi orang biasa tidak merasa senang.

Bahasa politik.

Selama pemilu presiden baru-baru ini, yang dipanggil pilpres (pemilihan presiden), bahasa politik lebih tajam, karena pasangan calon ingin menyakinkan masyarakat mengenai kebaikannya. Bahasa sangat penting sebagai alat untuk memberitahukan kebijaksanaannya dan menyakinkan rakyat memberikan suaranya. Ada bahasa politik yang berbeda dengan bahasa sehari-hari; politikus-politkus mengunakan semboyan-semboyan dan kata klise dalam menyampaikan maksudnya. Selama waktu kampanye, banyak jargon digunakan, seperti singkatan yang klise tersebut, dan sering kalau jargon digunakan, isu-isu yang benar tidak dibahas. Rupanya semua partai memfokuskan tentang isu-isu yang sama, seperti korupsi dan hak asasi manusia, tanpa menjelaskan solusi untuk isu-isu ini. Memang, pemilu presiden baru, banyak orang mengkomentari dalam koran bahwa debat umum dangkal sekali, dan calon-calon tidak memfokuskan kebijaksanaannya tetapi malahan pemilu ini menunjukkan pasangan calon yang mana yang lebih kuat atau siapa yang  mempunyai penampilan lebih baik.

Bahasa politik tidak sekedar memberitahukan kebijaksanaan, tetapi lebih lagi. Setiap orang perlu mengerti arti lain yang disembunyikan dalam katanya. Karena tidak ada sesuatu yang berkata tanpa alasan bagus, dan setiap politikus tahu bagaimana mengatakan kata-kata kosong sambil mewujudkan kesannya yang baik. Banyak orang tidak percaya politikus-politikus karena masyarakat tahu bagaimana politikus-politikus pandai bersilat lidah dengan mengunakan bahasa.

Bahasa politik adalah diawasi lewat pidato dan jawaban yang sudah siapkan. Seorang responden dosen berkata, ‘Tidak ada kata dibicarakan tanpa memikirkan akibatnya. Mereka bersembunyi di belakang bahasanya dan tidak mengatakan hal  yang merugikan’. Alasan ini karena bahasa adalah kuat sekali. Politikus mengunakan bahasa supaya menciptakan kesannya, dan kesan ini adalah aspek yang terpaling hidupnya umum. Kalau mereka memberi jawaban yang salah kepada pertanyaan wartawan, mereka mungkin menyakitkan hati orang lain, dan menyebabkan perdebatan umum dan karirnya akan rusak. Karena itu, politikus tahu bagaimana mengelak dari pertanyaan yang susah.

Dalam penelitian saya, ada petunjuk bahwa kebanyakan orang tidak percaya janji-janji dari pemerintah, terutama pemerintah baru yang terpilih. Mereka tidak percaya bahwa politikus-politikus bisa menghentikan korupsi atau bahwa mereka akan berkerja untuk kepentingan rakyat. Seperti bunyi peribahasa: “Siapapun yang menjadi presiden, saya tetap miskin’. Dan juga ‘Besok berubah lagi’.

Walaupun, menurut beberapa aktivis, ada banyak orang dalam kaum buruh yang percaya janji presiden, yang adalah kontradiksi karena mereka yang sering menghilangkan banyak kebijaksanaan dari pemerintah konservatif. Sementara itu orang di kelas menengah, yang sudah terdidik tentang pemerintah, tidak percaya politikus tetapi mendapat keuntungan yang lebih dari mereka.

Kebanyakan orang diwawancarai saya juga setuju bahwa ada kelompok-kelompok di masyarakat yang dikesampingkan oleh politikus-politikus atau media massa. Kelompok-kelompok ini termasuk orang miskin, perempuan dan petani. Kolompok yang tidak kaya atau tidak mempunyai kekuasaan dan oleh karena itu lebih mudah untuk diabaikan.

Menarik bahwa beberapa orang berpikir ada terlalu banyak singkatan dalam bahasa Indonesia, sambil orang yang lain tidak menganggap masalah ini. Singkatan yang termasuk bidang politik adalah jargon politik, kata yang mungkin tidak dimengerti oleh semua orang dalam masyarakat. Kalau seorang membaca koran atau menonton berita televisi, mereka pasti belajar kata-kata ini. Tetapi ada orang-orang yang tidak membaca koran atau menonton televisi, mereka tidak akan mengerti dan akibatnya tidak bisa mewahaminya. Bahasa politik biasanya diawasi dengan teliti tetapi selalu terjadi kemungkinan kesalahan. Ini kadang-kadang terjadi kalau politikus-politikus harus berbicara tanpa naskah yang disiapkan terlebih dahulu.

Walaupun bahasa adalah penting dalam bidang politik, itu tidak selalu berhasil memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Alasan itu mungkin karena bahasa politik terlalu jauh dari bahasa sehari-hari.

Jargon politik mempengaruhi wacana politik, karena orang yang ingin mengambil bagian dalam debat umum, pasti harus tahu bagaimana mengunakan bahasa yang cocok.

Bagian 2 WACANA POLITIK

Pemain-pemain dalam wacana politik

Wacana politik adalah debat politik umum yang terjadi di mana saja di antara masyarakat. Setiap hari orang-orang di mana-mana akan berbicara tentang isu-isu yang penting. Isu-isu macam-macam yang menyangkut orang-orang dan negaranya, seperti pendidikan, perang, korupsi, globalisasi dan lain-lain. Pemerintah harus menentukan kebijaksanan mengenai isu-isu ini, keputusan yang akan langsung mempengaruhi kehidupan orang banyak.

Ada beberapa pendapat yang berbeda tentang semua isu-isu ini, yang berarti isu-isu sering bisa menjadi pokok persengketaan, dan menimbulkan debat umum yang keras. Debat ini akan mempengaruhi bagaimana pemerintah melakukan tindakan.

Sedikit-banyak, semua orang yang berbicara mengenai politik adalah mereka yang mengambil bagian dalam wacana politik, tetapi biasanya wacana politik utama  dimengerti oleh mereka yang terlibat sebagai politisi, akademis, masyarakat, dan media masa.

Kekuasaan dibawa oleh pemerintah, mereka membuat agenda dan memutuskan isu-isu yang mana akan diskusikan. Mereka melakukkan ini untuk memfokuskan pada isu-isu yang lebih bermanfaat baginya. Lewat pidato penting dan selama wawancara, politikus-politikus berbicara mengenai kebijaksaannya, dan akibatnya, wartawan akan tanya mereka menganai isu-isu ini. Seperti lingkaran, kalau ada isu yang pemerintah ingin menaikkan, satu politikus akan menyebutkan itu dan akibatnya, banyak wartawan akan menanya kepada setiap politikus tentang itu, dan segera isu ini menjadi berita besar and semua orang dalam masyarakat juga berbicara mengenai hal itu. Dalam cara yang sama, pemerintah biasanya bisa melupakan isu-isu yang mereka tidak suka. Pasti, pemerintah tidak menguasi semua debat umum, mereka sering terpaksa mendiskusikan isu-isu yang merugikan pemerintah karena wacana politik juga dipengaruhi masyarakat.

Dalam negara yang demokratik, pada akhirnya, masyarakat mempunyai kekuasaan di atas pemerintah karena mereka yang memutuskan siapa yang akan menjadi presiden dan juga siapa boleh duduk di dalam DPR. Tetapi orang yang diwawancari oleh saya, sering merasa seperti mereka tidak mempunyai kekuasaan supaya mempengaruhi wacana politik, dan merasa mereka tidak mempunyai suara dalam wacana politik atau politikus-politikus tidak akan mendengarkan suara mereka.

Secara resmi, politikus-politikus bertanggung jawab terhadap masyarakat, jadi orang-orang berhak untuk bertanya tentang tindak tanduk pemimpinnya. Orang-orang berbicara tentang politik di antara mereka sendiri, tetapi bagaimana orang biasa mengambil bagian dalam politik, dan membuat pendapatnya terkenal?

Satu cara adalah lewat media massa. Orang biasa bisa memakai media supaya dimuat pendapatnya.

Media masa adalah penghubung di antara pemerintah dan masyarakat. Termasuk berita televisi, koran, majalah dan radio. Mereka melaporkan berita dari pemerintah, dan menerjemahkan itu untuk masyarakat. Perkerjaan wartawan harus menyelidiki cerita dan menganalisir kebijaksaanan pemerintah untuk masyarakat. Ada masalah yang terdapat media masa menjadi berat sebelah, dan mengesampingkan terhadap kaum-kaum dalam masyarakat seperti politikus-politikus. Tetapi ada juga ruang dalam koran untuk pendapat orang biasa, terutama mahasiswa, dan surat kepada redaktur sering sangat penting mimbar yang terbuka untuk semua orang dalam masyarakat.  Media massa juga harus memuat isu-isu yang penting. Sering media melakkukan ini, dan beberapa koran atau majalah, seperti Tempo, sudah terkenal untuk diri sendiri dan menantang pemerintah. Media massa penting sekali sebagai bagian dari wacana politik, karena waktu saya bertanya pada responden tentang informasi politik, mereka semua menjawab mereka mendapat informasi tentang politik dari televisi atau koran, atau lewat media yang lain seperti internet. Biasanya debat umum terjadi lewat media massa; semua pihak dilaporkan media dan orang biasa memutuskan untuk diri sendirinya. Satu hal lain yang berkaitan dengan wacana politik dan debat umum.

Universitas-universitas mempunyai peran dalam wacana politik juga. Ada tradisi bahwa universitas adalah tempat yang mana banyak gerakan politik mulai, mahasiswa adalah golongan yang sering berada di depan merubah politik di banyak negara. Akademisi-akademisi dan mahasiswa bisa mempunyai posisi yang mempengaruhi debat umum mengenai isu-isu politik.

Mahasiswa bisa mempengaruhi golongan yang besar berisi orang yang berpendidikan dan kemungkinan besar orang yang radikal untuk dikerahkan di balik isu, di tempat yang mana politik dan gagasan-gagasan adalah yang terpenting. Juga, akedemisi-akedemisi bisa mempengaruhi debat umum karena mereka sangat dihormati untuk mempunyai pendapat yang terpelajar, dan juga mereka bisa mempengaruhi mahasiswa yang diajarnya.

Universitas juga tempat di mana debat menurus terus terjadi, misalnya ada kursus mengenai isu politik yang bersejarah, tidak hanya debat tentang isu-isu dalam media pada saat ini.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: